Polewali Mandar , Komunika Nusantara .Ulasan atas Pemikiran Aco Musaddad HM (Kadis Kominfo SP Polewali Mandar dan Dosen Pasca Sarjana Universitas Islam DDI AGH Abd Rahman Ambo Dalle dan Institut Hasan Sulur, Mememberikan pandangan mendalam mengenai kepemimpinan Bupati Polewali Mandar periode 2025–2029, H. Samsul Mahmud.
Menurut Aco Musaddad, dalam kepemimpinan kontemporer sering muncul dikotomi antara profesionalisme dan religiusitas. Namun, Samsul Mahmud justru hadir sebagai figur yang mampu memadukan keduanya secara harmonis dalam praktik pemerintahan.
“Beliau bukan hanya kepala daerah, tetapi dirigen perubahan yang mampu menyelaraskan birokrasi, visi politik, dan nilai-nilai spiritual,” ujar Aco Musaddad yang juga dosen di Universitas Islam DDI AGH Abd Rahman Ambo Dalle dan Institut Hasan Sulur.
Aco Musaddad menilai, capaian pembangunan Polewali Mandar dalam waktu relatif singkat tidak lepas dari latar belakang Samsul Mahmud sebagai pengusaha. Pendekatan efisiensi dan orientasi hasil menjadi ciri utama dalam pengambilan kebijakan.
Dalam kurun satu tahun, berbagai kebijakan produktif dinilai mampu menekan angka kemiskinan secara signifikan. Program pembangunan tidak bersifat konsumtif, melainkan mendorong penguatan ekonomi kerakyatan yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Di sektor sumber daya manusia, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menunjukkan komitmen kuat pada pendidikan dan kesehatan. Hal tersebut diperkuat dengan pengembangan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) sebagai upaya menciptakan tata kelola pemerintahan yang transparan, cepat, dan akuntabel.
“Digitalisasi menjadi instrumen penting untuk memangkas birokrasi yang berbelit dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat,” jelasnya.
Di ranah politik, kepemimpinan Samsul Mahmud juga mendapat legitimasi luas. Terpilihnya sebagai Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Barat secara aklamasi dinilai sebagai bukti kepercayaan dan kemampuan beliau dalam merangkul berbagai elemen.
“Aklamasi mencerminkan figur pemersatu yang mampu membangun kepercayaan lintas faksi. Ini menjadi modal penting dalam memperjuangkan kebijakan pro-rakyat,” kata Aco Musaddad.
Filantropi dan Kepemimpinan Spiritual
Sisi lain yang disoroti adalah keteladanan filantropi. Aco Musaddad menilai religiusitas Samsul Mahmud tidak bersifat seremonial, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata.
Beberapa lahan pribadi dihibahkan untuk pembangunan pesantren, perguruan tinggi, dan Sekolah Rakyat. Selain itu, ia kerap membangun serta merenovasi rumah ibadah menggunakan dana pribadi tanpa bergantung pada mekanisme hibah pemerintah.
“Ini bentuk kepemimpinan spiritual yang tulus, di mana jabatan dimuliakan dengan pengorbanan, bukan sebaliknya,” ungkapnya.
Sebagai akademisi berlatar DDI, Aco Musaddad juga menyoroti kedekatan Samsul Mahmud dengan para ulama. Ulama tidak hanya dilibatkan dalam kegiatan seremonial, tetapi menjadi rujukan moral dalam pengambilan kebijakan strategis.
Hubungan yang harmonis ini dinilai berkontribusi besar terhadap stabilitas sosial dan kehidupan keagamaan yang sejuk di Polewali Mandar.
Pemimpin yang Tuntas dengan Dirinya
Aco Musaddad menyimpulkan, Samsul Mahmud merupakan prototipe pemimpin yang dibutuhkan di era disrupsi.
Ia memadukan ketegasan kepala daerah, kecakapan pengusaha, pengaruh politik, serta ketulusan seorang muslim yang taat.
“Beliau bekerja dengan data dan kebijakan yang terukur, namun tetap melangkah dengan doa dan restu para ulama. Seorang pemimpin yang tidak mencari kekayaan dari jabatan, tetapi menggunakan kekayaannya untuk memuliakan jabatan,” tutupnya.














