POLMAN, Komunika Nusantara . Abrasi pantai yang terus mengikis daratan di Dusun Waitawar, Desa Tammangalle, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), kian mengancam permukiman warga. Sedikitnya tiga rumah yang berada dekat dengan garis pantai disebut menjadi lokasi paling rentan terdampak pengikisan air laut.
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Polewali Mandar, H. Samsul Mahmud, turun langsung meninjau kawasan pesisir untuk melihat kondisi terkini sekaligus memastikan langkah penanganan yang diperlukan guna mengurangi ancaman terhadap permukiman masyarakat.
Setelah meninjau lokasi, Bupati Samsul Mahmud bersama pihak balai terkait mendorong penanganan darurat di lapangan. Alat berat pun telah diturunkan untuk mendukung proses pengisian pasir ke dalam geobag atau kantong penahan material yang digunakan sebagai perlindungan sementara kawasan pantai.
Langkah tersebut merupakan bagian dari koordinasi Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi Barat dan pihak terkait dalam menghadapi abrasi yang terus mengikis daratan pesisir Desa Tammangalle.
Babinsa Desa Tammangalle, Suparman, mengatakan sudah banyak geobag telah idiisi pasir tinggal menggunakan alat berat untuk menyusunnya.
Selain penanganan awal tersebut, pemerintah daerah bersama pihak balai juga menyiapkan sekitar 600 geobag untuk memperkuat perlindungan sementara di kawasan pesisir yang terdampak abrasi.
Kepala Dusun Waitawar, Nurdin, menyampaikan terima kasih kepada Bupati Polewali Mandar, Samsul Mahmud, BWS Sulawesi Barat, serta seluruh pihak terkait yang telah memberikan bantuan untuk penanganan abrasi di wilayahnya.
Menurut Nurdin, bantuan tersebut sangat berarti bagi warga yang selama ini dihantui kekhawatiran akibat semakin terkikisnya daratan di sekitar permukiman mereka.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bupati Polman, Bapak Samsul Mahmud, BWS Sulawesi Barat, dan semua pihak yang telah membantu. Kalau tidak ada penanganan, kami khawatir pantai Tammangalle bisa terus tergerus hingga habis,” ungkap Nurdin.
Meski penanganan darurat mulai berjalan, kekhawatiran warga terhadap kondisi pantai masih tinggi. Berdasarkan keterangan warga setempat, pengikisan daratan diperkirakan telah mencapai sekitar tujuh meter.
Warga khawatir, apabila abrasi terus berlanjut, air laut akan semakin mendekati permukiman dan mengancam keselamatan keluarga serta bangunan rumah mereka. Sedikitnya tiga rumah disebut berada paling dekat dengan bibir pantai sehingga membutuhkan perhatian serius.
“Kami berharap ada tanggul permanen, karena kalau abrasi terus berlanjut, kami khawatir rumah kami bisa terbawa air laut,” ungkap seorang warga.
Di tengah upaya penanganan darurat, proses pengerjaan juga menghadapi kendala pasang surut air laut. Ketika air mulai pasang, ruang gerak alat berat menjadi terbatas sehingga pekerjaan hanya dapat dilakukan pada waktu-waktu tertentu.
Berdasarkan keterangan di lokasi, alat berat diperkirakan hanya dapat beroperasi 3 hingga 5 jam, bergantung pada kondisi pasang surut air laut.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam mempercepat penanganan abrasi di Dusun Waitawar. Karena itu, warga berharap koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar, BWS Sulawesi Barat, dan seluruh pihak terkait terus diperkuat agar pekerjaan perlindungan pesisir dapat berjalan optimal.
Penanganan melalui geobag diharapkan mampu mengurangi dampak abrasi untuk sementara waktu. Namun, masyarakat juga berharap adanya pembangunan tanggul permanen sebagai perlindungan jangka panjang bagi permukiman dan keselamatan warga di pesisir Desa Tammangalle.













