MAMUJU, Komunika Nusantara–Peserta Magang Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Mamuju terus menunjukkan kreativitas dan inovasi melalui kegiatan budidaya maggot yang berlokasi di Area Brandgang, Rabu (14/10).
Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengembangan keterampilan dan pembinaan kemandirian yang berorientasi pada pemanfaatan sumber daya secara produktif. Budidaya maggot dilakukan dengan memperhatikan proses pertumbuhan lalat Black Soldier Fly (BSF), mulai dari fase awal hingga berkembang menjadi lalat dewasa yang kemudian menghasilkan telur sebagai cikal bakal siklus budidaya berikutnya.
Dalam perkembangannya, budidaya maggot yang dikelola peserta magang telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Bibit yang sebelumnya dibudidayakan kini telah berkembang menjadi lalat BSF dan menghasilkan telur. Pencapaian ini menunjukkan bahwa proses budidaya telah memasuki tahapan penting dalam siklus hidup BSF sekaligus membuka peluang untuk keberlanjutan produksi maggot secara mandiri.
Budidaya maggot memiliki beragam manfaat, di antaranya sebagai alternatif pengolahan sampah organik, terutama sisa bahan makanan yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan larva. Selain membantu mengurangi volume sampah organik, maggot juga berpotensi menjadi sumber pakan alternatif berprotein tinggi bagi ikan dan unggas. Sementara itu, sisa hasil pengolahan maggot dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah atau pupuk organik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan penggunaannya.
Melalui kegiatan ini, peserta magang tidak hanya memperoleh pengalaman praktik dalam bidang budidaya, tetapi juga mengembangkan keterampilan teknis, kedisiplinan, ketelitian, dan kemampuan mengelola proses produksi secara berkelanjutan. Pemanfaatan Area Brandgang sebagai lokasi budidaya turut menunjukkan bahwa ruang yang tersedia dapat dikembangkan menjadi sarana kegiatan produktif dan bernilai guna.
Kepala Rutan Kelas IIB Mamuju, Sudirman, S.E., S.H., menyampaikan apresiasinya terhadap perkembangan budidaya maggot yang dikelola peserta magang tersebut.
“Budidaya maggot ini merupakan salah satu bentuk inovasi yang memiliki manfaat nyata, baik dari sisi pengelolaan sampah organik, pengembangan pakan alternatif, maupun peningkatan keterampilan. Kami berharap kegiatan ini dapat terus dikembangkan sehingga memberikan nilai tambah dan menjadi contoh bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk menghasilkan sesuatu yang produktif,” ucapnya.
Ia juga berharap peserta magang dapat terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama menjalani program magang, sekaligus menghadirkan ide-ide kreatif yang mendukung pengelolaan lingkungan dan ketahanan pangan di Rutan Mamuju.
Melalui budidaya maggot BSF ini, Rutan Kelas IIB Mamuju terus mendorong terciptanya kegiatan produktif yang mengintegrasikan pembelajaran, inovasi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Diharapkan, keberhasilan hingga tahap produksi telur dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan budidaya yang berkelanjutan, efisien, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.











