POLMAN, KOMUNIKA NUSANTARA. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Polewali Mandar (Polman), H. Arifin Yambas, mengapresiasi pelaksanaan pendampingan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Menurutnya, program tersebut penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan satuan pendidikan dalam menghadapi potensi bencana.

Arifin mengatakan, berdasarkan penyampaian Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sulawesi Barat, SPAB menjadi salah satu item pemenuhan dalam Rapor Pendidikan pada setiap satuan pendidikan.

“Ini merupakan salah satu indikator yang masuk dalam Rapor Pendidikan setiap satuan pendidikan. Selain pembiasaan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, pendidikan kebencanaan juga penting diterapkan di sekolah,” ujar Arifin.

Menurutnya, pendidikan kebencanaan perlu diberikan sejak dini agar siswa memiliki pengetahuan dan kemampuan dasar dalam menghadapi situasi darurat. Hal tersebut penting karena bencana tidak selalu dapat diprediksi dan dapat terjadi secara tiba-tiba.

“Anak-anak dari sekarang sudah harus dididik bagaimana menghadapi ketika bencana alam tiba-tiba datang. Bukan hanya anak-anak, tetapi orang tua juga perlu memiliki pemahaman tentang kebencanaan,” katanya.

Ia menilai, pemahaman tentang mitigasi bencana dapat membantu warga sekolah mengambil langkah yang tepat ketika terjadi bencana, khususnya bagi mereka yang berada di wilayah rawan bencana.

“Ketika sudah mengetahui mitigasi bencana, paling tidak kita bisa segera mengambil langkah untuk menghindari atau mengurangi risiko. Kita juga bisa membantu pihak-pihak yang berada di wilayah rawan bencana agar dapat segera menyelamatkan diri,” jelasnya.

Arifin menambahkan, masyarakat perlu berupaya semaksimal mungkin dalam menghadapi berbagai risiko bencana. Setelah melakukan ikhtiar dan langkah-langkah mitigasi, menurutnya, manusia kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

“Intinya, kita sebagai manusia harus selalu berusaha. Kalau sudah berusaha menghindari suatu bencana melalui langkah-langkah mitigasi, kemudian kita bertawakal karena semua keputusan ada pada Allah SWT,” tuturnya.

Ia juga mendorong sekolah-sekolah yang telah mengikuti pendampingan SPAB agar meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada satuan pendidikan lainnya melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) maupun forum terkait.

“Diharapkan satuan pendidikan yang sudah mengikuti kegiatan ini bisa meneruskannya melalui kelompok kerja masing-masing, sehingga pengetahuan tentang kebencanaan tidak hanya berhenti di sekolah yang mengikuti pendampingan,” ungkapnya.

Arifin berharap guru dan orang tua siswa dapat bersama-sama mendukung pelaksanaan pendidikan kebencanaan sebagai bagian dari upaya meningkatkan keselamatan warga sekolah.

Menurutnya, semakin banyak satuan pendidikan yang memahami dan menerapkan prinsip sekolah aman bencana, semakin kuat pula kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi berbagai potensi bencana, termasuk kondisi cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here