Polman, Komunika Nusantara . Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Polewali Mandar, H. Arifin Yambas, mengapresiasi pelaksanaan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat SMP Kabupaten Polewali Mandar.
Menurut Arifin, kegiatan MGMP tidak sekadar menjadi forum pertemuan para guru, tetapi memiliki peran strategis dalam memperkuat silaturahmi, meningkatkan koordinasi antara guru PAI dan Dinas Pendidikan, menyamakan persepsi dalam pelaksanaan program pendidikan, sekaligus meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru.
“Atas nama pribadi dan selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Polewali Mandar, kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada pengurus MGMP PAI SMP Kabupaten Polewali Mandar yang telah menggagas dan menyelenggarakan kegiatan ini,” ujar Arifin dalam sambutannya.
Ia mengatakan, MGMP merupakan wadah strategis bagi guru untuk saling berbagi pengalaman, mendiskusikan berbagai persoalan pembelajaran, mengembangkan perangkat ajar, serta merumuskan solusi terhadap berbagai tantangan pendidikan yang terus berkembang.
Arifin menegaskan, guru Pendidikan Agama Islam memiliki posisi penting dalam membentuk karakter peserta didik. Tugas guru PAI, kata dia, tidak hanya menyampaikan pengetahuan keagamaan, tetapi juga menanamkan nilai akhlak, tanggung jawab, kejujuran, toleransi, kedisiplinan, dan kepedulian sosial.
Di tengah perkembangan teknologi informasi dan arus globalisasi yang semakin cepat, peserta didik menghadapi berbagai informasi, pandangan, dan pengaruh yang tidak semuanya sejalan dengan nilai agama dan budaya bangsa.
Karena itu, guru PAI dituntut mampu menjalankan peran sebagai pendidik, pembimbing, teladan, sekaligus pengarah bagi peserta didik.
“Keteladanan guru sering kali lebih kuat pengaruhnya daripada nasihat yang panjang. Apa yang dilihat, dirasakan, dan dialami peserta didik dari sikap gurunya akan membekas dalam proses pembentukan kepribadian mereka,” katanya.
Menurut Arifin, pembelajaran agama di sekolah hendaknya mampu memberikan pencerahan dan bimbingan kepada peserta didik, bukan menimbulkan ketakutan maupun sikap saling menghakimi.
Pembelajaran PAI juga diharapkan dapat memperkuat persaudaraan, menghargai perbedaan, serta mendorong peserta didik menjadi pribadi yang baik secara spiritual sekaligus mampu hidup secara harmonis di tengah masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Arifin juga menyoroti agenda Sosialisasi Asesmen Moderasi Beragama yang menjadi bagian dari kegiatan MGMP PAI.
Ia menilai, sosialisasi tersebut relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini, khususnya dalam membangun pemahaman keberagamaan yang seimbang di lingkungan sekolah.
Arifin menjelaskan, moderasi beragama bukan berarti mengurangi ajaran agama, mencampuradukkan keyakinan, ataupun menghilangkan ketegasan terhadap prinsip agama. Moderasi beragama, kata dia, merupakan cara memahami dan mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang dengan tetap menghargai kemajemukan dalam kehidupan bermasyarakat.
Nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan melalui sikap menghargai perbedaan, menolak kekerasan, menjunjung keadilan, menjaga komitmen kebangsaan, membangun toleransi, serta mengedepankan musyawarah dan persaudaraan.
“Sekolah merupakan tempat yang sangat strategis untuk menanamkan nilai-nilai tersebut. Melalui pembelajaran PAI, kegiatan keagamaan, keteladanan guru, dan budaya sekolah, peserta didik dapat dibimbing agar memahami bahwa keberagamaan harus melahirkan kedamaian, kasih sayang, dan kemaslahatan,” jelasnya.
Ia berharap Asesmen Moderasi Beragama tidak hanya dipandang sebagai kegiatan pengukuran atau penilaian, tetapi juga menjadi instrumen untuk melihat sejauh mana nilai-nilai moderasi telah tumbuh dalam diri peserta didik maupun lingkungan pendidikan.
Lebih lanjut, Arifin berharap kegiatan MGMP dapat memperkuat komunikasi dan sinergi antara Dinas Pendidikan, MGMP, sekolah, dan para guru PAI.
Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan meningkatkan pemahaman guru terhadap konsep, tujuan, dan pelaksanaan Asesmen Moderasi Beragama serta melahirkan berbagai inovasi pembelajaran PAI yang sesuai dengan perkembangan zaman, namun tetap berlandaskan nilai-nilai Islam dan karakter kebangsaan.
Ia juga mendorong agar sekolah terus dibangun sebagai ruang pendidikan yang aman, inklusif, religius, dan menghargai keberagaman.
“Kami mengajak seluruh guru PAI untuk terus meningkatkan kompetensi, memperkuat literasi digital, memperkaya metode pembelajaran, dan membangun kolaborasi. Guru tidak boleh berhenti belajar, karena peserta didik yang kita hadapi terus berubah, sementara tantangan pendidikan semakin kompleks,” tegas Arifin.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan sekaligus membangun komitmen bersama dalam memajukan pendidikan di Kabupaten Polewali Mandar.
Dengan demikian, MGMP PAI diharapkan tidak hanya menjadi ruang bertukar pengalaman, tetapi juga menjadi bagian dari upaya bersama membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, moderat, toleran, berkarakter, serta memiliki kecintaan terhadap bangsa dan tanah air.












