Majene, Komunika Nusantara. Upaya memperkuat identitas Kabupaten Majene sebagai “Kota Pendidikan” terus digaungkan melalui gagasan strategis yang berpijak pada kearifan lokal. Dalam Diskusi Tomanurung yang digelar di Cafe Bujang, Majene, Ahad (3/5), DR Aco Musaddad HM memaparkan konsep integratif antara budaya Mandar dan pengembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi. Senin 3 Mei 2026
Menurutnya, pelestarian budaya Mandar tidak boleh berhenti pada romantisme masa lalu, melainkan harus ditransformasikan menjadi sumber pengetahuan yang terukur, sistematis, dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Majene tidak boleh hanya menjadi tempat mahasiswa belajar teori umum. Majene harus menjadi ruang produksi pengetahuan, di mana Lontara Mandar adalah datanya, dan perguruan tinggi menjadi mesin pengolahnya,” tegasnya di hadapan peserta diskusi.
Dalam pemaparannya, ia menawarkan lima gagasan konstruktif sebagai langkah konkret:
Pertama, integrasi Laboratorium Lontara melalui kolaborasi antar perguruan tinggi. STAIN Majene diharapkan berfokus pada digitalisasi serta kajian etika-keagamaan dalam naskah Lontara, sementara Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) mengembangkan teknologi pengarsipan berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membaca dan mengolah manuskrip kuno.
Kedua, penguatan kurikulum berbasis kearifan lokal melalui mata kuliah “Merawat Tomanurung”. Konsep ini diarahkan sebagai studi kepemimpinan lokal, di mana nilai-nilai Tomanurung dikaji secara akademik sebagai standar integritas dalam tata kelola pemerintahan modern.
Ketiga, pelaksanaan KKN Tematik Budaya yang menugaskan mahasiswa melakukan inventarisasi aset budaya dan cerita lisan di desa-desa. Hasilnya akan dihimpun dalam jurnal ilmiah maupun direktori budaya digital Majene.
Keempat, pembentukan Pusat Studi Mandar Internasional sebagai upaya menjadikan Majene sebagai destinasi riset global di bidang filologi dan antropologi, termasuk melalui penyelenggaraan simposium tahunan bertajuk “Lontara & Future Majene”.
Kelima, rekonstruksi narasi Tomanurung dari sekadar entitas mitologis menjadi simbol inovasi dan transformasi sosial. Nilai pencerahan yang terkandung di dalamnya diharapkan menjadi spirit pengembangan ilmu pengetahuan di lingkungan akademik.
Melalui gagasan ini, diharapkan Majene mampu tampil sebagai pusat pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat berbasis budaya lokal, serta mampu menjawab tantangan global dengan identitasnya sendiri.
Diskusi tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Dharmawan, Andi Pirsan, DR Farid Wajdi, Thamrin, dan Tammalele, dengan Munir sebagai moderator.













