Polman, Komunika Nusantara. Wabah Covid-19 mulai berdampak sosial ke segala sendi kehidupan. Terlebih bagi Pedagang Kaki Lima (PK5). Jutaan pedagang kaki lima harus kehilangan mata pencahariannya. Pasar tradisional yang menjadi tempat mata pencaharian satu-satunya mulai ditutup. Mereka saat ini tidak lagi memiliki penghasilan. Di lain pihak kehidupan terus berlangsung.
Mereka punya keluarga yang tetap harus makan. Salah satu pedagang PK5 mengatakan “saya bukannya mau membangkang atas himbauan pemerintah, akan tetapi kalo saya ga dagang saya dan keluarga di rumah makan apa?”.
Miris melihat postingan teman di fb. Seorang PK5 di salah satu pasar di daerahnya harus diusir secara paksa oleh Satpol PP dari tempatnya berjualan. Ibu 3 anak tersebut menangis histeris harus pulang kerumah dengan tangan kosong.
Penghasilan sebagai PK5 sebenarnya tidak seberapa. Modal keselurahan jualannya berkisar hanya ratusan ribu rupiah. Tak sanggup membayangkan, bagaimana jika anaknya yang masih berumur 4-12 tahun minta uang jajan. Mereka keluarga sederhana, setiap pulang dari pasar ibu biasanya membawa cemilan sederhana.
Namun hari itu, Apa alasan yang harus disampaikan ke anaknya….Ibunya tidak membawa cemilan apapun….! Ibunya tidak menerima uang sepersen pun hari itu…
Ibu ini tidak sendiri. Postingan lain, seorang Bapak harus menjajakan HP rusak keliling kampung hanya untuk menukarnya dengan beras. Anaknya butuh makan…. !
Lain lagi dengan Ibu PK5 di Padang. Ibu itu harus bertengkar dengan petugas pasar lantaran dilarang berjualan. Kami harus tetap berjualan… ! Ibu itu histeris..! “Kalau tidak jualan, kami mau makan apa?”.
Bukan, hanya makan. Kami punya kredit modal yang harus kami bayar..! Pidato Jokowi yang meringankan kredit untuk UMKM tidak sampai ke kami, katanya.. ! Kami terus ditagih oleh debitur…!.Andaipun kami mati karena Corona, itu sama saja. Berdiam di rumah itu juga akan membunuh kami. Anak dan keluarga kami butuh makan…!
Musibah Covid 19 ini bukan hal yang biasanya. Ini luar biasa…! Pemerintah sudah berbuat banyak. Namun, perlu lebih fokus dan kreatif. APBN/APBD harusnya bisa dibahas ulang. Fungsi wakil-wakil mereka di DPR/DPRD bisa dimaksimalkan. Mungkin masih ada pos-pos dana yang bisa dialihkan ke mereka.! Apresiasi kepada anggota legislatif dan partai politik yang telah membantu pengadaan peralatan cuci tangan, APK, pembagian masker, sembako dll. Itu sangat bermanfaat. Namun, itu bukan fungsi legislatif. Itu adalah kerja eksekutif..
Wewenangmu jauh lebih besar daripada sekedar itu! Harusnya yang dilakukan mendorong eksekutif untuk melakukan yang terbaik untuk masyarakat… ! Realokasi anggaran yang tidak terlalu penting masih perlu dilakukan. Misalnya Anggaran perjalanan dinas, anggaran pelatihan, anggaran rapat-rapat dan anggaran lain yang tidak terlalu urgen sudah saatnya harus dialihkan. Sekarang masyarakat di bawah membutuhkan peran besar dan kewenangan istimewamu….Semoga musibah ini segera berakhir… Amin!
Harli A. Karim
Akdemisi Sulbar(BRI)














