Komunika Nusantara, Mamuju- ketua Komunitas Mahasiswa untuk kedaulatan Rakyat (KOMKAR) kader Front perjuangan pemuda Indonesia (FPPI) Mamuju, mengenang 12 Mei 1998 berlalu, merupakan hari yang tak akan pernah dilupakan, tidak hanya warga kampus Universitas Trisakti tetapi bagi rakyat Indonesia, khususnya Mahasiswa dalam memperjuangkan perubahan, karena waktu itu darah tertumpah dan kemarahan meledak menjadi tragedi yang tak pernah sama sekali dibayangkan.

Tak ada yang menginginkan jatuhnya korban jiwa dalam tragedi Trisakti itu, tetapi sejarah juga mencatat bahwa apa yang terjadi di kampus Trisakti pada hari itu telah mengubah banyak tatanan yang ada pada rezsim tersebut yang kita ketahui adalah Rezim Orba (orde baru).

Sekedar kilas balik, banyak kejadian yang terjadi di Rezim orde baru ini yang dilakukan oleh mahasiswa pada saat itu, salah satunya adalah unjuk rasa atau demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa itu sudah menjadi pemandangan lazim yang hampir setiap harinya dilihat. Hampir di seluruh Indonesia Mahasiswa melakukan aksi setiap harinya untuk melawan rezim orde baru pada saat itu.

Banyak tuntutan mahasiswa yang dikeluarkan salahsatunya adalah mahasiswa menuntu untuk Presiden Soeharto untuk mundur karena dinilai tak bisa menanggulangi krisis ekonomi yang diduga karena salah urus Negara dan merebaknya korupsi, kolusi dan juga nepotisme (KKN) dikalangan pejabat Negara.

Maret, April, Mei adalah bulan dimana Mahasiswa menggelar unjuk rasa dengan skala besar untuk kemudian menuntut Presiden Soeharto pada saat itu untuk turun dari jabatannya. Dan bulan ini pula mahasiswa tidak bisa di elakkan lagi oleh aparat dan akhirnya bentrokan antara aparat dan mahasiswa tak dapat dihentikan. Dikampus UGM Bulaksumur Bentrokan mahasiswa degan aparat keamanan mengakibatkan lebih dari 100 mahasiswa terluka, di kampus Universitas Airlangga juga berakhir bentrok diperhitungklan 16 Mahasiswa terluka dan dilarikan ke Rumah Sakit.

Dengan semua rentetan unjuk rasa yang terus meluas di seluruh Indonesia, kondisi keamanan serta kondisi politik sangat susah di prediksi terutama di kota-kmota besar. Yang jelasd ketika aparat keamanan makin keras ,emghadapi gelombang unjuk rasa mahasiswa pun tetap memilih untuk tidak mundur dan meneruskan tuntutannya.

Dalam kondisi seperti inilah Tragedi Trisakti terjadi,seolah sudah menajdi garis sejarah pucak perlawanan mahasiswa mencapai klimaks di kampus biru itu yang kemudian diikuti dengan gerakan massa yang luas. Aksi di kampus tri sakti 12 mei 1998 ini dilakukan oleh ribuan mahasiswa bersama sejumlah dosen dan alumni untuk kemudian berkumpul dan melakukan mimbar bebas. Seperti menurunkan bendera setengah tiang sebagai tanda keprihatinan terhadap kondisi Negara yang tengah dalam kesulitan. Ribuan mahasiswa yang turun aksi pada saat itu melakukan aksinya di di depan kantor walikota Jakarta barat karena aksi mereka dihadang oleh aparat kemanan saat menuju gedung DPR-MPR. Aksi mereka terbilang tertib karena mereka hanya megeluarkan orasi-orasi tuntutan mereka dan sebagian membagi-bagi bunga.

Setelah selesai aksi, mahasiswa lalu balik ke kampus pada saat itu dengan tertib. Tetapi tanpa jelas tiba-tiba terjadi letusan senjata ke kerumunan mahasiswa pada saat itu dan membuat panik ribuan mahasiswa yang telah berada dalam kampus, pada saat itu tembakan dan gas air mata mengarah masuk ke kampus sehingga sejumlah mahasiswa tergeletak dan bersimbah darah. Dalam situasi ini parah mahasiswa membantu dan mengevakuasi kawan-kawannya dan disini pula diketahui tiga orang mahasiswa tewas ditempat akibat tembakan dan satu lainnya tewas di rumah sakit, meskipun aparat pada saat itu membantah bahwa telah melakukan penembakan tetapi hasil autopsi meunjukkan kematian empat mahasiswa ini disebabkan oleh peluruh tajam.

Kabar ini langsung menyebar dan insiden di kampus trisakti seolah menjadi pemicu kerusuhan massa skala luas yang terjadi setiap harinya hingga rezim soeharto ditumbangkan. Isiden ii juga mendapat perhatian dunia internasioanl seperti uni eropa yang mengatakan pemerintah Indonesia harus menahan diri dalam mengahadapi pengunjuk rasa. Dan juga menteri luar negeri amerika yang mengatakan hal yang serupa.

Ketua MPR pada saat itu terang-terangan meminta soeharto untuk mengundurkan diri dari kepemimpinannya ini demi kepentingan nasional, dan pada saat tanggal 20 Mei 1998 Gedung DPR-MPR dikuasai oleh ribuan mahasiswa dan akhirnya tanggal 21 Mei 1998 seluruh awak media dipanggil ke Istana untuk mengabadikan momen pengunduran diri Soeharto dan langsung digantikan oleh BJ Habibi sebagai presiden baru pada saat itu.

Dari sejarah mahasiswa jelas bahwa Mahasiswa memiliki peran penting dalam perubahan, kita sudah melihat di rezim orde baru terjadi perubahan dikarena mahasiswa yang kemudian membludak turun kejalan karena Negara tidak mampu menjawab kesenjangan sosial yang terjadi, belum lagi di birokrasi pemerintahan yang melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang mengakibatkan Negara mengalami krisis moneter pada saat itu. Lantas apakah yang membunuh mahasiswa pada saat itu di kampus tri sakti sudah di investigasi atau bahkan sudah dipenjarakan, entahlah karena sampai sekarang tak jelas siapa yang kemudian melakukan penembakan itu, meskipun dipastikan mereka bukanlah siluman.

Ini adalah pembelajaran bagi kita semua selaku mahasiswa bahwa kita akan terus berada di garda terdepan bicara soal kemakmuran rakyat dan keadilan sosial haruus terlaksana karena rakyat harus berdaulat atas tanahnya,airnya serta udaranya. Ucap (M irfan)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here