Polman, bKomunika Nusantara. Sekitar 660 hektar sawah di Desa Paku, Kecamatan Binuang, terancam gagal turun sawah akibat kerusakan parah pada sistem irigasi.
Kerusakan ini menyebabkan aliran air yang vital bagi pertanian menjadi tidak memadai, berpotensi memicu krisis ekonomi bagi masyarakat yang bergantung pada hasil pertanian di Desa Paku.
Kepala Desa Paku, Syarifuddin menyatakan bahwa irigasi yang ada saat ini berusia 30 tahun dan sering mengalami kerusakan. Pihaknya terus melakukan perbaikan, tetapi tidak bertahan lama dan rusak lagi.
“Kondisi irigasi sangat memprihatinkan. Banyak titik yang bocor dan merembes, sehingga air tidak sampai ke sawah kami. Jika masalah ini tidak segera diatasi, kami khawatir akan gagal turun sawah dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat yang bisa mengalami krisis ekonomi yang parah,” jelasnya.
Kerusakan pada saluran irigasi ini telah menyebabkan air tidak dapat mengalir dengan baik ke lahan pertanian. Banyak titik pada saluran irigasi yang bocor dan mengalami rembesan, Situasi ini semakin memperburuk kondisi pertanian di Desa Paku yang sangat bergantung pada irigasi untuk musim tanam.
Kepala Desa Paku Syarifuddin mengungkapkan bahwa pihaknya sudah sering mengajukan proposal ke berbagai pihak untuk memperbaiki irigasi yang rusak tersebut. Namun sampai saat ini belum ada respon baik dari Balai BWS Pompengan Jeneberang, Anggota DPR Komisi V, DPRD Provinsi Sulbar dan Dinas Pertanian Sulbar.
“Kami sudah sering mengajukan proposal ke pihak Balai, DPRD, dan Kepala Daerah. Bahkan, pada bulan Mei ini kami juga mengajukan proposal ke pusat tapi tidak ada respon sampai saat, masalah ini menjadi sasaran Komisi 5 DPR yang membidangi perairan. Kami juga dijanjikan oleh anggota DPRD Provinsi Sulawesi Barat bahwa perbaikan akan segera dilakukan, namun hingga kini belum ada tindakan nyata yang diambil untuk memperbaiki saluran irigasi ini,” ujarnya dengan nada penuh harap.
Lebih lanjut, Kepala Desa menyebutkan bahwa Bendungan Paku merupakan bendungan terbesar kedua setelah Bendungan Sekka-Sekka, namun karena irigasi yang rusak, petani hanya dapat mengandalkan musim hujan untuk turun sawah.
“Bendungan Paku sebenarnya nomor dua terbesar setelah Bendungan Sekka-Sekka, tapi karena irigasi rusak, petani di sini hanya bisa mengandalkan musim hujan untuk menggarap sawah mereka. Ini sangat tidak ideal dan berdampak buruk pada produktivitas,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa sejak 2014 pihaknya sudah pernah mengajukan perbaikan ke Pemerintah Daerah dan sudah hampir dikerjakan pada tahun 2016 atas kerja sama dengan Dinas Pertanian, namun gagal. Mereka kembali dijanjikan bahwa perbaikan akan dilakukan pada tahun 2021, tetapi janji itu juga tidak terealisasi.
“Kami sudah mengajukan sejak 2014 dan hampir dikerjakan pada 2016, tapi gagal. Kami juga dijanjikan akan dikerjakan pada 2021, namun hingga kini masih belum ada tindakan,” tambahnya.
Dalam upaya mempercepat solusi, masyarakat meminta agar perhatian Bupati difokuskan pada perbaikan saluran irigasi daripada proyek-proyek lain seperti jalanan atau jembatan.
“Kami minta kepada Bupati untuk tidak perlu membangun jalanan atau jembatan di Paku. Yang kami butuhkan adalah perbaikan total saluran air irigasi. Kalau irigasi ini tidak diperbaiki dengan baik, kami tidak bisa turun sawah dan akan menghadapi krisis ekonomi. Kami tidak tahu mau makan apa jika sawah gagal panen,” Tutur Kepala Desa Paku.
Menurut Kepala Desa, kegagalan perbaikan irigasi ini disebabkan oleh ketidakseriusan pemerintah setempat dalam menangani masalah tersebut.
“Yang membuat perbaikan irigasi ini gagal adalah pemerintah setempat, terutama Bupati, yang tidak serius menangani masalah ini. Kami butuh tindakan nyata, bukan hanya janji,” pungkasnya.














