Polman, Komunika Nusantara. Kopi asal Sulawesi memiliki prospek yang sangat besar untuk menembus pasar Eropa khususnya Belanda. Kebutuhan kopi khususnya spesialty coffees memiliki permintaan yang cukup tinggi di Eropa.

Petani dan stakeholder kopi untuk tetap mengembangkan kopi spesialty (specialty coffees) disertai storytelling yang menjadi pembeda dengan kopi lainnya. Demikian disampaikan Merianne Tijs asal Belanda dalam Webinar terbatas tentang produksi dan adaptasi perubahan iklim tanaman kopi. Merianne merupakan Partner and Southeast Asean Coffee Spesialist at Matahari GT. Seminar online dilaksanakan oleh Pusat Riset dan Inkubasi Kopi Kakao Universitas Al Asyariah Mandar (Puriskoka-Unasman) bekerjasama dengan PT. Ritma Green Bersinergi (Kamis, 7 Oktober 2021).

Peserta webinar berasal dari stakeholder kopi yang tersebar di wilayah pegunungan Sulawesi antara lain Toraja, Mamasa, Enrekang, Polman, Majene, Sinjai, Bulukumba, Gowa, Bone dan Pinrang. Pembicara lain Said Fauzan Baabud (Trade Facilitation Associate), Aqdar Maskur (PT. Ritma Green) dan Direktur Puriskoka Unasman Harli A. Karim.

Said Fauzan Baabud dalam kesempatan tersebut lebih menyoroti tentang isu sosial dan lingkungan sangat melekat dalam perdagangan kopi. Isu tersebut sangat mempengaruhi harga kopi. Menurut Said konsumen kopi di Eropa semakin cerdas. Konsumen kopi Eropa mereka menurut Said tidak hanya menikmati rasa kopi tapi mereka sudah mengaitkan dengan isu keadilan dan kesejahteraan petani, peran perempuan (gender) dalam aktifitas kopi. Selain isu sosial, perdagangan kopi juga sudah dikaitkan dengan isu perubahan iklim, prilaku konsumsi sehat, Ekosistem Satwa Pendukung dan pencegahan kerusakan lingkungan.

Aqdar Maskur sebagai pembicara pembanding mengatakan bahwa produksi kopi terutama Arabika terus menurun yang salah satu faktor utamanya adalah perubahan iklim. Tanpa adanya praktek adaptasi iklim menurut Aqdar diperkirakan Indonesia akan berhenti menjadi eksportir kopi pada tahun 2035. Hal itu disebabkan karena produksi hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik dalam negeri. Olehhnya itu menurut Akdar salah satu adaptasi perubahan iklim yang penting dilakukan adalah Agroforestry.

Dalam kesempatan tersebut Direktur Puriskoka Unasman, Harli A. Karim mengatakan animo petani untuk kembali menekuni pertanaman kopi sebenarnya sangat tinggi. Namun demikian menurut Harli petani sebagai produsen di hulu justru terkadang mendapat manfaat yang lebih sedikit. Kopi milik petani menurut Harli dihargai jauh lebih rendah dibandingkan harga yang seharusnya mereka terima. Kesehateraan petani kopi juga masih memprihatinkan. Padahal, menurut Ketua Perhimpunan Sarjana Pertanian ndonesia (PISPI-Sulbar) ini, seharusnya harga di tingkat petani bisa lebih tinggi jika merujuk permintaan kopi dalam dan luar negeri semakin tinggi. Harli mencontohkan, harga segelas kopi di cafe-cafe bisa mencapai puluhan ribu rupiah per gelas, segelas kopi di cafe-cafe hanya membutuhkan beberapa gram biji kopi. Sedangkan di tingkat petani biji kopi milik petani hanya dihargai Rp.10.000 –Rp. 15.000 per liter.

Kesenjangan harga ini menurut Harli seharusnya dipikirkan oleh semua pihak. Rantai pasok harus lebih pendek. Petani kopi menurut Harli seharusnya diberi akses langsung ke pasar-pasar modern. Apalagi menurut Harli, kopi Sulawesi sejak dulu dikenal memiliki cita rasa yang khas dan unggul. Keunggulan cita rasa ini seharusnya dihargai lebih baik, Release Hari Karim. (BRI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here